Rabu, 25 Juni 2014

Final Liga Champions: Madrid 4-1 Atletico

Pressing dan Agresivitas Atletico yang Dipecahkan Taktik Pergantian Pemain

Nurul Savika  - detikSport
Rabu, 25/05/2014 15.54 WIB


thumbnail  
 

Real Madrid menjuarai Liga Champions 2013/2014 usai mengalahkan rival sekota, Atletico Madrid, dengan skor telak, 4-1. Skor akhir seperti menunjukkan Real mendominasi, padahal jalannya laga tidak sesederhana selisih gol telak itu.

Gelar kesepuluh Real di ajang Liga Champions diraih dengan jalan yang terlihat kontras. Jika selama 93 menit (saat masih tertinggal 0-1) semuanya seperti terlihat begitu sulit bagi Los Blancos, 30 menit setelahnya (di babak perpanjangan waktu usai gol Sergio Ramos) segalanya tampak begitu mudah.

Hal sebaliknya terjadi pada Atletico. Kesebelasan asuhan Diego Simeone ini bermain meyakinkan sepanjang 93 menit. Agresif di semua area, solid dalam bertahan, percaya diri dalam memegang bola bahkan walau di pertahanan sendiri, semangat yang terlihat menggebu-gebu, juga daya tahan fisikal yang rasanya seperti melampaui batas yang mereka miliki. Tapi setelah gol Sergio Ramos di injury time itu, semuanya terlihat begitu berat, payah dan akhirnya terasa menyedihkan bagi Gabi dkk.




Dominasi Tanpa Possession

Di babak I, Atletico unggul 1-0 berkat gol Diego Godin memanfaatkan kesalahan Iker Casillas yang salah antisipasi. Skor ini sampai batas tertentu menggambarkan bagaimana dominasi Atletico atas rival sekotanya ini sepanjang babak I.

Penguasaan bola memang dikuasai El Real dengan perbandingan sekitar 55% berbanding 45%. Tapi hampir dalam banyak aspek, anak asuh Simeone lebih mendominasi permainan. Ini bisa dilihat, misalnya, dalam hal percobaan mencetak gol. Jika Atletico berhasil membuat lima percobaan mencetak gol, Real hanya membuat dua percobaan, itu pun lahir dari tendangan bebas langsung Ronaldo dan upaya Bale yang bermula dari kesalahan umpan Thiago.

Atletico bahkan sanggup membuat pemain-pemain penting Real di lini serang tak pernah menyentuh bola di dalam kotak penalti. Angel Di Maria, Cristiano Ronaldo dan bahkan Karim Benzema yang diplot sebagai target-man sekali pun tak pernah menguasai bola di kotak penalti. Hanya satu kali pemain Real bisa menguasai bola di kotak penalti, Gareth Bale, yang masuk ke dalam kotak penalti, itu pun dimulai kesalahan umpan pemain Atletico (Thiago).

Agresivitas dan pressing yang berani dilakukan di wilayah lawan sangat menyulitkan Real mengembangkan permainan. Di tengah, Gabi dan Thiago melakukan hal yang sama. Tiap kali pemain Real menguasai bola, 2-3 pemain Atleti langsung mendekat. Saat Real mencoba menyusun serangan dari belakang, tak jarang bahkan sampai tiga pemain Atletico memberi tekanan yaitu Adrian (masuk menggantikan Costa di menit ke-8), David Villa, dan Koke.

Saat serangan mereka gagal, dengan sangat cepat pula mereka kembali ke garis pertahanan. Real Madrid tak pernah unggul jumlah pemain di pertahanan Atletico, bahkan walau mereka melakukan serangan balik sangat cepat yang di babak semifinal dengan gemilang berhasil melantakkan Bayern Munich.

Tidak ada komentar: