Erol tergugah menjadi muallaf lantaran melihat aktivitas umat Islam yang membuatnya merasa tenang.
Mungkin banyak yang belum mengetahui cerita di balik bek Sriwijaya
FC, Erol Iba, memutuskan untuk menjadi muallaf. Tentu saja, proses yang
dilaluinya untuk memeluk agama Islam tidak terjadi secara instan.
Menurut pemain berusia 34 tahun itu banyak hal yang membuatnya
tergugah untuk memeluk agam Islam. Diceritakan Erol, sebelum memutuskan
masuk Islam, nuansa agama Islam telah dirasakannya sejak 1998. Itu
ketika pertama kali dirinya menginjakkan kaki di kota Padang untuk
memperkuat Semen Padang.| EROL FX IBA | |
|
|
|
| Kelahiran: Jayapura, 6 Agustus 1979 Tinggi/berat: 170 cm/55 kg Posisi: Bek. Gelandang Klub: Sriwijaya FC |
|
Hal yang paling menggugahnya memeluk Islam adalah aktivitas umat
Islam, yang membuatnya merasa tenang dan hikmat ketika melihat maupun
mendengarnya. Ia pun mencoba mempelajarinya sedikit demi sedikit sebelum
akhirnya memutuskan memeluk agama Islam pada 2002.
"Pertama saya lihat cara orang Islam bersembahyang, khusyuk
kelihatannya. Lalu lihat orang ngaji dan adzan, seperti mereka sedang
berbicara langsung dengan Tuhan-nya. Dari situlah saya mulai belajar,
dan akhirnya saya masuk Islam lalu menikahi istri saya yang sekarang,"
ungkap Erol.
Lahir dari keluarga non muslim, tentunya keputusan pemain asal Papua
ini berpindah agama tidak langsung mendapat respons yang baik dari
seluruh keluarga. Khususnya sang ibu yang menentang keputusannya
tersebut.
"Ibu yang pertama tidak begitu setuju dengan keputusan saya. Tapi Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu akhirnya bisa menerimanya," terang Erol yang merupakan anak sulung dari empat saudara ini.
"Kalau bapak prinsipnya terserah anak-anak. Kalau menurut anaknya itu baik silakan. Bahkan beliau pesan setelah masuk Islam jangan lupa sembahyang, berperilaku yang baik. Karena apapun agamanya kalau perilaku tidak baik, tetap sama saja tidak akan jadi orang yang baik," tambah mantan penggawa timnas
Indonesia itu.
Erol pun bercerita tentang pengalaman pertama kali menunaikan ibadah
puasa. "Sebelum masuk Islam saya sudah terbiasa ikut puasa pas tahun
1998, karena mayoritas teman-teman saya berpuasa waktu di Semen Padang.
Tapi puasa saya tidak seperti seorang muslim, kapan mau puasa ya puasa,
kalau tidak ya tidak," cerita Erol.
Pertama
saya lihat cara orang Islam bersembahyang, khusyuk kelihatannya. Lalu
lihat orang ngaji dan adzan, seperti mereka sedang berbicara langsung
dengan Tuhan-nya.
|
Tapi setelah memeluk agama Islam, Erol tak ingin meninggalkan Rukun
Islam keempat itu. "Tak peduli mau dalam keadaan latihan. Karena puasa
ini sudah jadi kewajiban seorang muslim," tegasnya.
Setelah menjadi seorang muslim, Erol bertekad senantiasa memperbaiki
ibadahnya. "Saya berharap, puasa tahun ini ibadah saya lebih
ditingkatkan walau saya juga harus menjalani latihan. Saya juga saat ini
sambil belajar ngaji, karena belum begitu pandai," urainya. (gk-55)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar